Di suatu pagi yang cerah, ketika sinar mentari mulai menghangatkan halaman madrasah, saya teringat sebuah perjalanan sederhana namun penuh makna menuju kawasan Sunan Giri. Perjalanan itu bukan sekadar berpindah tempat, melainkan juga pelajaran tentang kehidupan, nilai, dan cara kita memandang sesuatu yang tampak sepele—seperti biaya ojek.
Sebagai seorang guru, saya sering mengajak murid-murid untuk memahami bahwa setiap pengalaman memiliki hikmah. Termasuk ketika kita membayar jasa ojek menuju makam Sunan Giri, salah satu wali besar penyebar Islam di tanah Jawa. Banyak peziarah yang datang dari berbagai daerah, dan tentu saja, ojek menjadi sarana transportasi yang memudahkan mereka mencapai lokasi yang cukup menanjak.
Biaya ojek di kawasan Sunan Giri umumnya bervariasi, tergantung jarak dan kondisi. Pada waktu tertentu, biaya tersebut bisa berkisar antara Rp10.000 hingga Rp25.000 untuk sekali perjalanan. Sebagian orang mungkin merasa itu mahal untuk jarak yang tidak terlalu jauh. Namun, di sinilah pentingnya kita belajar melihat dari sudut pandang yang lebih luas.
Para pengemudi ojek di sana bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pelayanan ziarah. Mereka membantu para lansia, anak-anak, bahkan peziarah yang kelelahan agar tetap bisa sampai ke tujuan dengan aman. Dalam Islam, membantu sesama adalah bentuk ibadah, dan pekerjaan mereka pun memiliki nilai kemuliaan tersendiri.
Saya sering menyampaikan kepada murid-murid, “Jangan hanya melihat angka, tapi lihatlah usaha di baliknya.” Biaya ojek itu bukan sekadar transaksi, melainkan penghargaan atas tenaga, waktu, dan keikhlasan seseorang dalam bekerja.
Selain itu, perjalanan menuju Sunan Giri juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Dengan membayar ojek, kita belajar berbagi rezeki. Dengan berjalan kaki, kita belajar kesabaran. Keduanya adalah bentuk ibadah jika diniatkan dengan baik.
Anak-anakku, kehidupan ini seperti perjalanan menuju Sunan Giri. Kadang kita perlu “ojek” berupa bantuan orang lain, kadang kita harus berjalan sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga niat, menghargai sesama, dan bersyukur atas setiap langkah yang kita tempuh.
Maka, ketika kelak kalian berziarah ke sana, ingatlah—biaya ojek bukan sekadar angka rupiah, tetapi juga pelajaran tentang empati, keadilan, dan keberkahan dalam berbagi.
Komentar
Posting Komentar